Salman Al-Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorangyang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalahgelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.
”Subhanallaah.. walhamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi ber-taqwa.
”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah SWT telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Nabi SAW, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya”, fasih Abu Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Nabi yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Nabi yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami”. Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterus terangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah SWT saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterus terangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis.
Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.
Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar !”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu ditengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan…...
Rasa memiliki terkadang menjadi sulit ditepis…..
Salman memberikan contoh yang barangkali tidak pernah terjadi selama sejarah manusia. Maka sungguh menggelikan ketika seseorang begitu membanggakan status dan kekayaannya, sementara sejatinya ia tidak memilikinya.
Qulillahumma malikal mulki tu’til mulka man tasya’, demikian Allah SWT berfirman dalam QS:3/Ali imron: 26, Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. Apakah kita akan kikir dengan harta yang Allah berikan? Bahkan ber-infaq 1000 saja berat di rumah Allah SWT yang mulia? Sementara dengan sangat mudah melepas ratusan ribu di perbelanjaan.
Rasa memiliki yang berlebihan, tak lebih dari sebuah sergapan. Ya sergapan untuk membuat kita menjadi pecandu segala fasilitas yang ada. Sesekali berjalanlah di area Bantar Gebang, berjalanlah di blok antara Jalan Pendidikan dan Jalan Kartini di Timika. Maka akan terasa betapa kita, ternyata, berlebihan dalam fasilitas. Sesekali berkunjunglah ke SP6, ke SP8, ke Pomako!
Barangkali ketika seseorang datang untuk meminta bantuan, entah itu pengemis, panitia sunatan masal, panitia ramadhan, panitia zakat, entah siapapun itu, bisa jadi pemilik harta itu datang dan ialah pemilik harta yang sesungguhnya.
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami.
Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah SWT untuk mengayakan nilai guna karunia-Nya. Wallahu a’lam bishowab. (riwayat Salman diambil dari Jalan Cinta Para Pejuang)
Rabu, 01 Oktober 2008
Rabu, 24 September 2008
Seandainya Cuma Ada Ramadhan
Namaku Hamdhan,/
Sebelas umurku / Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari / Aku suka Ramadhan / Bulan puasa itu / Bebaskan aku dari puasa tak menentu / Terpaksa tak makan karena memang tak ada yang bisa disantap / Tinggal datang ke masjid atau mushola / Ada makanan enak menanti / Ta'jil katanya, pembuka puasa
Aku Tono/
Aku suka Ramadhan / Karena majikanku berpuasa dari mengomel dan memukuliku / Jika aku salah atau lambat kerja / Padahal aku kan sering capek dan juga ingin bermain di sembilan tahunku
Ramadhan?/
Aku suka itu / Pundi-pundi berisi penuh / Tak cuma koin receh / Tapi juga uang kertas / Yang mereka lemparkan dari balik kaca mobil mewah / Saat kusodorkan di lampu merah / Bulan
puasa itu membuat tiba-tiba banyak orang baik dan bersedekah ya? / Jadi ibuku bilang: "Amir, ada sisa untuk ditabung, mudah-mudahan kamu bisa sekolah lagi.. "
Suka, aku suka sekali/
Ramadhan itu ' kan / Bulan yang orang-orang jadi selalu makan enak untuk berbuka dan sahur / Supaya tak terasa lemas dan lapar mereka bilang / Jadi harus ada kolak, es campur, kue-kue, makanan daging
Aku Anwar, si pengangkut keranjang belanja di pasar-pasar/
Senang, berbilang kali mondar mandir mengangkut tumpukan belanja ibu-ibu /" Sstt, jangan bilang guru ngaji bahwa aku jadi sering batal tak kuat puasa karenanya /"Bapakku ndak marah kok, aku kan masih kecil, belum baligh / Asal ada uang yang bisa dibawa pulang / Kasihan bapakku lumpuh / Tak bisa cari uang sesudah kecelakaan di pabrik dulu
Kalau ingin ganti baju/
Supaya tak tambal-tambal / Atau penuh lubang / Ya harus tunggu bulan setahun sekali / Bulan apa ya.. / Pokoknya yang ada lebarannya itu.. / Orang-orang kaya ganti baju / mungkin terlalu sesak almarinya /Jadi aku dapat sisa / Tapi masih bagus bagus kok / Aku jadi bisa pakai berlapis / Tak terlalu dingin lagi di gubuk kecil terbuat dari kardus-kardus / Benar emak menasehati : .."Sabar nduk, Gusti Allah ora sare.." / Menenangkan rengekanku minta baju / Karena malu diejek / Ujang si gembel bajunya tembel
Kalau ingin sekali-sekali merasakan/
Gantian / Orang berpunya mengejar si papa / Mereka yang berada / mengejar pengemis gelandangan (kadang menyingkat memanggil kami Gepeng...) / Mencari agar ada penerima zakat / Besok Lebaran menjelang / Akan batal Zakat Fitrah sesudah sholat / Ikut saja bersamaku di Malam Takbiran / Tenang-tenang tiduran di emperan pinggiran jalan / Tergopoh-gopoh mereka datang / Membangunkan kami untuk terima zakat / Lucu, kali ini si empunya butuh orang miskin .. / Ada benarnya juga namaku si Untung… / kecil-kecil sudah
beruntung…
Aku tahu bapakku miskin sekali/
Sebagai kuli / Penghasilannya cuma dari angkut barang / Tapi ia tak bolehkan, aku Mamat anaknya, mengemis / Jadi menemani Bapak / Mengambilkan minum dan sesekali pijati punggungnya / Karena di Ramadhan ia banyak sekali angkut mebel juga kulkas, tivi baru / Nanti kalau ada ceramah di kampung aku mau tanya pak Kyai / Apa bulan puasa artinya ganti perabotan ya?
Ustadz Husni pernah bilang/
Tuhan itu bisa berbuat apa saja / Maha Kuasa / Tuhan juga Pemurah / Mau mendengarkan doa dari siapa saja / Termasuk anak jalanan miskin terlantar / Ya Allah, / Hamdan, Amir, Tono, Anwar, Untung, Ujang, Mamat / Doa bersama / Mengemis padaMu / Jadikan cuma ada (semangat) Ramadhan / Sepanjang tahun. / Amin (Tyas Soekamto)
Sebelas umurku / Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari / Aku suka Ramadhan / Bulan puasa itu / Bebaskan aku dari puasa tak menentu / Terpaksa tak makan karena memang tak ada yang bisa disantap / Tinggal datang ke masjid atau mushola / Ada makanan enak menanti / Ta'jil katanya, pembuka puasa
Aku Tono/
Aku suka Ramadhan / Karena majikanku berpuasa dari mengomel dan memukuliku / Jika aku salah atau lambat kerja / Padahal aku kan sering capek dan juga ingin bermain di sembilan tahunku
Ramadhan?/
Aku suka itu / Pundi-pundi berisi penuh / Tak cuma koin receh / Tapi juga uang kertas / Yang mereka lemparkan dari balik kaca mobil mewah / Saat kusodorkan di lampu merah / Bulan
puasa itu membuat tiba-tiba banyak orang baik dan bersedekah ya? / Jadi ibuku bilang: "Amir, ada sisa untuk ditabung, mudah-mudahan kamu bisa sekolah lagi.. "
Suka, aku suka sekali/
Ramadhan itu ' kan / Bulan yang orang-orang jadi selalu makan enak untuk berbuka dan sahur / Supaya tak terasa lemas dan lapar mereka bilang / Jadi harus ada kolak, es campur, kue-kue, makanan daging
Aku Anwar, si pengangkut keranjang belanja di pasar-pasar/
Senang, berbilang kali mondar mandir mengangkut tumpukan belanja ibu-ibu /" Sstt, jangan bilang guru ngaji bahwa aku jadi sering batal tak kuat puasa karenanya /"Bapakku ndak marah kok, aku kan masih kecil, belum baligh / Asal ada uang yang bisa dibawa pulang / Kasihan bapakku lumpuh / Tak bisa cari uang sesudah kecelakaan di pabrik dulu
Kalau ingin ganti baju/
Supaya tak tambal-tambal / Atau penuh lubang / Ya harus tunggu bulan setahun sekali / Bulan apa ya.. / Pokoknya yang ada lebarannya itu.. / Orang-orang kaya ganti baju / mungkin terlalu sesak almarinya /Jadi aku dapat sisa / Tapi masih bagus bagus kok / Aku jadi bisa pakai berlapis / Tak terlalu dingin lagi di gubuk kecil terbuat dari kardus-kardus / Benar emak menasehati : .."Sabar nduk, Gusti Allah ora sare.." / Menenangkan rengekanku minta baju / Karena malu diejek / Ujang si gembel bajunya tembel
Kalau ingin sekali-sekali merasakan/
Gantian / Orang berpunya mengejar si papa / Mereka yang berada / mengejar pengemis gelandangan (kadang menyingkat memanggil kami Gepeng...) / Mencari agar ada penerima zakat / Besok Lebaran menjelang / Akan batal Zakat Fitrah sesudah sholat / Ikut saja bersamaku di Malam Takbiran / Tenang-tenang tiduran di emperan pinggiran jalan / Tergopoh-gopoh mereka datang / Membangunkan kami untuk terima zakat / Lucu, kali ini si empunya butuh orang miskin .. / Ada benarnya juga namaku si Untung… / kecil-kecil sudah
beruntung…
Aku tahu bapakku miskin sekali/
Sebagai kuli / Penghasilannya cuma dari angkut barang / Tapi ia tak bolehkan, aku Mamat anaknya, mengemis / Jadi menemani Bapak / Mengambilkan minum dan sesekali pijati punggungnya / Karena di Ramadhan ia banyak sekali angkut mebel juga kulkas, tivi baru / Nanti kalau ada ceramah di kampung aku mau tanya pak Kyai / Apa bulan puasa artinya ganti perabotan ya?
Ustadz Husni pernah bilang/
Tuhan itu bisa berbuat apa saja / Maha Kuasa / Tuhan juga Pemurah / Mau mendengarkan doa dari siapa saja / Termasuk anak jalanan miskin terlantar / Ya Allah, / Hamdan, Amir, Tono, Anwar, Untung, Ujang, Mamat / Doa bersama / Mengemis padaMu / Jadikan cuma ada (semangat) Ramadhan / Sepanjang tahun. / Amin (Tyas Soekamto)
Rabu, 17 September 2008
Surga Baru untuk Anda
Fathimah mengenang ketika suaminya, Umar ibn Abdul Aziz mulai memegang amanah ke-khalifah-an. ”Mungkin ada orang lain yang lebih banyak shalat dan ibadahnya daripada Umar”, kata Fathimah. ”Tapi aku belum pernah menyaksikan orang yang lebih takut kepada Allah SWT daripadanya”. Pengangkatannya menjadi Amirul Mu’minin memang menjadi sebuah jungkir balik hidup yang dahsyat bagi Umar.
Seorang sahabatnya menyaksikan ketika dihari-hari ia memangku jabatannya Umar memegang sehelai kain seharga 3 dirham dan berkomentar, ”Ini terlalu halus untukku!”
Sang sahabat tersenyum. Tapi tak terasa, air matanya meleleh deras.
”Mengapa kau tersenyum?”, tanya Umar.
Sahabatnya itu menerawang ke arah lain sambil menghela nafas. “Aku ingat saat kau masih seorang pemuda di Madinah“, katanya. “Kau menganggap ringan terlambat shalat berjama’ah karena masih sibuk menyisir rambut. Dan kau…..“ Sahabatnya itu tersenyum lagi, sambil geleng-geleng kepala seolah geli. “Kau pernah mengatakan saat itu bahwa kain seharga 3.000 dirham terasa sangat kasar”.
“Lihat dirimu sekarang! Kau katakan kain seharga 3 dirham sebagai terlalu halus.“
Umar ikut tersenyum. Matanya berkaca.
Fathimah pun mengenang ketika sekali waktu Umar duduk di sampingnya kemudian berbisik lembut kepadanya. “Engkau pasti tahu dari mana ayahmu memberimu permata yang kau pakai ini. Oleh sebab itu apakah engkau keberatan bila permata ini kita taruh dalam sebuah kotak lalu kita masukkan ke Baitul Mal?“
Fathimah terhenyak. Ia menatap lelaki yang amat dicintainya itu. Dirabanya permata yang menggantung di lehernya itu. Permata itulah satu-satunya perhiasannya yang masih tinggal. Ia sangat menyayanginya. Permata yang penuh kenangan. Permata itu hadiah ayahnya –sekaligus paman Umar, Khalifah Abdul Malik ibn Marwan di hari pernikahan mereka.
“Terlebih dahulu“, kata Umar, “Aku akan membelanjakan simpanan Baitul Mal yang lain, dan kalau sudah habis barulah akan kugunakan permata itu untuk kepentingan kaum muslimin.“
Fathimah akhirnya tersenyum. Dibukanya pengait kalungnya. Diserahkannya permata itu ke genggaman suaminya. Dan Umar, dengan tubuhnya yang kini kurus memeluknya tanpa kata. Mesra. Dan lama.
Fathimah tahu artinya. Seolah-olah ia mendengar suara lembut Umar, ”Terima kasih atas kesetiaanmu padaku di jalan yang mendaki lagi sulit ini. Semoga Allah SWT mempersatukan kita dalam kehidupan yang lebih indah di sisiNya”.
Kelak, ketika Umar wafat dan adik Fathimah yang bernama Yazid ibn Abdul Malik menggantikannya sebagai Khalifah, ujian kesetiaan itu datang. Yazid yang tahu perhiasan kesayangan kakaknya, membawa kembali permata itu. Dengan penuh sayang diletakkannya permata itu di genggaman tangan kakaknya. Fathimah menggeleng sambil tersenyum. ”Aku telah menjauhinya ketika Umar masih hidup. Bagaimana mungkin aku berdekat-dekat dengannya ketika Umar telah tiada?” Begitu katanya.
Saya, tersenyum bahagia membaca happy-ending riwayat ini. Sungguh sebuah kombinasi keluarga yang menyenangkan. Ditengah pusaran kekuasaan, berjabatan sebagai khalifah, presiden, tidak membuat Umar Ibn Abdul Aziz terlepas dari wala’ kepada Allah SWT. Ditengah kemudahan sebagai istri pejabat publik, Fathimah tidak kemudian menjadi Ibu Negara yang super.
Saya membayangkan dalam level yang paling sederhana, jika percakapan yang kurang lebih sama terjadi antara saya dan istri saya, antara suami dan istri, antara suami anda dan istri anda, saya merasakan kehangatan cinta, saya merasakan ikatan kesetiaan, saya merasakan kekuatan kasih sayang. Lebih jauh lagi, saya merasakan kami berdua tengah di surga. Saya mencium wewangian bunga, melambai diantara gemericik air mengalir jauh tak terkira. Kami pun berjalan di tengah taman itu sambil berkata, “hadza min fadhli robbi, ini semua karunia Tuhanku”.
Saya pun berpikir, apakah saya harus mengatakannya malam ini kepada istri saya? Saya pun berpikir, anda mestinya punya cita-cita yang sama.
Kemudian saya membayangkan dalam level yang jauh, apakah percakapan ini terjadi pada presiden kita? Seandainya, para pemimpin negeri ini bercakap seperti halnya Umar Ibn Abdul Aziz. Saya yakin, angka kemiskinan bisa ditekan, angka korupsi jauh dibawah ambang, angka kejahatan turun ditelan kebaikan.
Maka benang merah dari kedua angan tadi adalah keluarga yang sholeh akan menyusun negeri yang sholeh. Sehingga negeri ini dipenuhi oleh keluarga yang penuh kesetiaan, penuh cinta dan penuh kasih sayang. Bayangkan jika pada sore hari yang cerah, para keluarga sholeh itu saling ber-silaturrahim, bertukar ta’jil, kemudian dibawa ke balai desa, sementara di kantor bupati ada yang nderes Qur'an dengan keluarga dan di kantor menteri sedang bersapa dengan rakyat tentang perbaikan yang mungkin bisa dilakukan. Presidennya? Ternyata sedang mengurus zakat di masjid. Ya, semuanya berawal dari keluarga yang sholeh.
Kapan saatnya memperindah keluarga kita? Ikhwah, saat itu telah tiba. Saat itu telah datang. Saat itu adalah saat kita memperbagus keluarga kita dengan bacaan Qur'an, dengan qudwah, contoh yang baik dan nyata untuk anak kita. Saat itu adalah saat kita berkesempatan untuk merenovasi kembali tubuh dan jiwa kita, menghilangkan perilaku dan tindak tanduk tercela di tengah kehidupan kita, serta mengeluarkan diri dari kungkungan ekslusifisme menuju pembangunan hubungan positif dengan keluarga.
Saat itu adalah sekarang. Saat rahmah, maghfiroh, ditebar Allah SWT untuk mu’minun, untuk shoimun, untuk yang menuju muttaqin. Tentunya juga untuk keluarga mu’minun, keluarga shoimun, keluarga muttaqin.
Ikhwah, selamat menikmati surga yang diindikasikan Nabi SAW, baiti jannati, rumahku surgaku. Selamat menikmati surga baru kita. Surga didunia, sebelum surga di akhirat, sehingga tidak kaget dengan surga abadi nantinya. Wallahu a’lam (referensi riwayat dari Jalan Cinta Para Pejuang)
Seorang sahabatnya menyaksikan ketika dihari-hari ia memangku jabatannya Umar memegang sehelai kain seharga 3 dirham dan berkomentar, ”Ini terlalu halus untukku!”
Sang sahabat tersenyum. Tapi tak terasa, air matanya meleleh deras.
”Mengapa kau tersenyum?”, tanya Umar.
Sahabatnya itu menerawang ke arah lain sambil menghela nafas. “Aku ingat saat kau masih seorang pemuda di Madinah“, katanya. “Kau menganggap ringan terlambat shalat berjama’ah karena masih sibuk menyisir rambut. Dan kau…..“ Sahabatnya itu tersenyum lagi, sambil geleng-geleng kepala seolah geli. “Kau pernah mengatakan saat itu bahwa kain seharga 3.000 dirham terasa sangat kasar”.
“Lihat dirimu sekarang! Kau katakan kain seharga 3 dirham sebagai terlalu halus.“
Umar ikut tersenyum. Matanya berkaca.
Fathimah pun mengenang ketika sekali waktu Umar duduk di sampingnya kemudian berbisik lembut kepadanya. “Engkau pasti tahu dari mana ayahmu memberimu permata yang kau pakai ini. Oleh sebab itu apakah engkau keberatan bila permata ini kita taruh dalam sebuah kotak lalu kita masukkan ke Baitul Mal?“
Fathimah terhenyak. Ia menatap lelaki yang amat dicintainya itu. Dirabanya permata yang menggantung di lehernya itu. Permata itulah satu-satunya perhiasannya yang masih tinggal. Ia sangat menyayanginya. Permata yang penuh kenangan. Permata itu hadiah ayahnya –sekaligus paman Umar, Khalifah Abdul Malik ibn Marwan di hari pernikahan mereka.
“Terlebih dahulu“, kata Umar, “Aku akan membelanjakan simpanan Baitul Mal yang lain, dan kalau sudah habis barulah akan kugunakan permata itu untuk kepentingan kaum muslimin.“
Fathimah akhirnya tersenyum. Dibukanya pengait kalungnya. Diserahkannya permata itu ke genggaman suaminya. Dan Umar, dengan tubuhnya yang kini kurus memeluknya tanpa kata. Mesra. Dan lama.
Fathimah tahu artinya. Seolah-olah ia mendengar suara lembut Umar, ”Terima kasih atas kesetiaanmu padaku di jalan yang mendaki lagi sulit ini. Semoga Allah SWT mempersatukan kita dalam kehidupan yang lebih indah di sisiNya”.
Kelak, ketika Umar wafat dan adik Fathimah yang bernama Yazid ibn Abdul Malik menggantikannya sebagai Khalifah, ujian kesetiaan itu datang. Yazid yang tahu perhiasan kesayangan kakaknya, membawa kembali permata itu. Dengan penuh sayang diletakkannya permata itu di genggaman tangan kakaknya. Fathimah menggeleng sambil tersenyum. ”Aku telah menjauhinya ketika Umar masih hidup. Bagaimana mungkin aku berdekat-dekat dengannya ketika Umar telah tiada?” Begitu katanya.
Saya, tersenyum bahagia membaca happy-ending riwayat ini. Sungguh sebuah kombinasi keluarga yang menyenangkan. Ditengah pusaran kekuasaan, berjabatan sebagai khalifah, presiden, tidak membuat Umar Ibn Abdul Aziz terlepas dari wala’ kepada Allah SWT. Ditengah kemudahan sebagai istri pejabat publik, Fathimah tidak kemudian menjadi Ibu Negara yang super.
Saya membayangkan dalam level yang paling sederhana, jika percakapan yang kurang lebih sama terjadi antara saya dan istri saya, antara suami dan istri, antara suami anda dan istri anda, saya merasakan kehangatan cinta, saya merasakan ikatan kesetiaan, saya merasakan kekuatan kasih sayang. Lebih jauh lagi, saya merasakan kami berdua tengah di surga. Saya mencium wewangian bunga, melambai diantara gemericik air mengalir jauh tak terkira. Kami pun berjalan di tengah taman itu sambil berkata, “hadza min fadhli robbi, ini semua karunia Tuhanku”.
Saya pun berpikir, apakah saya harus mengatakannya malam ini kepada istri saya? Saya pun berpikir, anda mestinya punya cita-cita yang sama.
Kemudian saya membayangkan dalam level yang jauh, apakah percakapan ini terjadi pada presiden kita? Seandainya, para pemimpin negeri ini bercakap seperti halnya Umar Ibn Abdul Aziz. Saya yakin, angka kemiskinan bisa ditekan, angka korupsi jauh dibawah ambang, angka kejahatan turun ditelan kebaikan.
Maka benang merah dari kedua angan tadi adalah keluarga yang sholeh akan menyusun negeri yang sholeh. Sehingga negeri ini dipenuhi oleh keluarga yang penuh kesetiaan, penuh cinta dan penuh kasih sayang. Bayangkan jika pada sore hari yang cerah, para keluarga sholeh itu saling ber-silaturrahim, bertukar ta’jil, kemudian dibawa ke balai desa, sementara di kantor bupati ada yang nderes Qur'an dengan keluarga dan di kantor menteri sedang bersapa dengan rakyat tentang perbaikan yang mungkin bisa dilakukan. Presidennya? Ternyata sedang mengurus zakat di masjid. Ya, semuanya berawal dari keluarga yang sholeh.
Kapan saatnya memperindah keluarga kita? Ikhwah, saat itu telah tiba. Saat itu telah datang. Saat itu adalah saat kita memperbagus keluarga kita dengan bacaan Qur'an, dengan qudwah, contoh yang baik dan nyata untuk anak kita. Saat itu adalah saat kita berkesempatan untuk merenovasi kembali tubuh dan jiwa kita, menghilangkan perilaku dan tindak tanduk tercela di tengah kehidupan kita, serta mengeluarkan diri dari kungkungan ekslusifisme menuju pembangunan hubungan positif dengan keluarga.
Saat itu adalah sekarang. Saat rahmah, maghfiroh, ditebar Allah SWT untuk mu’minun, untuk shoimun, untuk yang menuju muttaqin. Tentunya juga untuk keluarga mu’minun, keluarga shoimun, keluarga muttaqin.
Ikhwah, selamat menikmati surga yang diindikasikan Nabi SAW, baiti jannati, rumahku surgaku. Selamat menikmati surga baru kita. Surga didunia, sebelum surga di akhirat, sehingga tidak kaget dengan surga abadi nantinya. Wallahu a’lam (referensi riwayat dari Jalan Cinta Para Pejuang)
Rabu, 10 September 2008
(ternyata) SURGA ITU DEKAT
Teman baik mengirimkan saya artikel dari pak Ahmad Tohari, jurnalis senior. Intinya memberikan gambaran, betapa beramal tanpa berpikir tentang pahala adalah sesuatu yang indah.
Ada sebuah konsistensi yang terjadi, demikian pak Tohari bercerita. Ketika seseorang berteori, berkata‐kata, maka segala perkataan tersebut ditransformasikan menjadi amal, menjadi perbuatan, menjadi perilaku.
Pak Tohari bercerita, ketika ngaji pada waktu kecil di bawah kelap‐kelip lampu minyak, pak Tohari dan teman‐teman sekampung pernah mendengar cerita tentang seekor lalat dan setitik tinta. Guru ngaji bilang, suatu hari, seorang yang sangat ‘alim bernama Imam Ghazali sedang menulis kitab dengan kalam dan tinta. Pada saat yang sama, hinggap seekor lalat di atas kertas yang sedang ditulisi oleh beliau. Rupanya, serangga itu sedang kehausan, maka dia menjilati tapak kalam yang belum kering.
Imam Ghazali membiarkan lalat itu minum sampai puas. Kelak Imam Ghazali akan masuk surga. Namun, diterangkan oleh malaikat, Al Ghazali masuk surga bukan karena ilmu yang telah ditulis dalam kitab‐kitabnya. Beliau masuk karena kerelaannya membiarkan setitik tinta diminum oleh seekor lalat.
Dalam sebuah riwayat, menjelaskan, seorang perempuan dikatakan oleh Kanjeng Nabi bakal menjadi penghuni surga karena dia merelakan satu‐satunya roti yang dimiliki untuk seekor anjing yang kelaparan. Padahal, perempuan itu bukan seorang ahli ibadah. Sebaliknya. Suatu saat ada perempuan lewat dan para sahabat mengatakan dialah calon penghuni surga. Perempuan itu suka shalat malam. Tapi, Kanjeng Nabi mengatakan sebaliknya. Perempuan itu meski rajin beribadah, bakal masuk neraka karena dia tidak bersikap baik kepada para tetangga.
Dan saya pun teringat seorang Kiai di Jawa Timur, sayangnya saya lupa nama beliau.
Setiap kali beliau bepergian, kemanapun, beliau selalu menjadi rebutan para tukang becak. Pada waktu itu saya heran, kenapa? Ada sebuah keunikan yang terjadi. Singkat cerita, jika membayar tukang becak yang berjasa mengantarkan, beliau selalu merogoh kantong kemejanya dan langsung memberikan kepada tukang becak tersebut. Tidak pernah dihitung. Berapapun.
Jika tukang becak sedang mendapat rejekinya, ia bisa mendapatkan 50 ribu sekali antar Pak Kiai. Pun jika rejekinya, ia mendapat 500 rupiah dari Pak Kiai tersebut.
Saya selalu bertanya, kenapa beliau selalu membayar dengan cara seperti itu. Cara yang tidak lazim diantara meroketnya harga kebutuhan kehidupan. Pak Kiai, beliau berkata, ”rejeki itu dari Allah SWT. Saya ndak berhak menghalangi rejekinya tukang becak tersebut. Jadi apa yang dikantong saya, itulah rejekinya tukang becak”.
Saya hanya geleng‐geleng saja. Sebuah konsistensi yang unik. Allah SWT tidak akan pernah salah dalam memberi rejeki. Allah SWT tidak pernah salah dalam memberikan pahala. Dan Pak Kiai tersebut juga tidak pernah berpikir apakah nanti mendapat pahala atau tidak. Bagi beliau, beliau mengamalkan apa yang menjadi ceramah beliau.
Allah SWT selalu menyandingkan kata iman dengan amal. Karena sesungguhnya tidak akan berarti iman tanpa amal. Seperti halnya Allah SWT mengancam para ”omdo” (omong doang), dalam QS:62/Ash‐Shoff:2, limataquluna mala taf’alun, tidak mengerjakan apa yang dibicarakan. Dalam konsep manajemen modern, hal seperti ini disebut konsistensi, walk the talk.
Demikian halnya ustadz Said Hawa menjelaskan dalam buku fenomenalnya, Al‐Islam, bahwa karunia iman terletak pada 3 hal, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan perbuatan. Maka kehilangan salah satu dari sendi iman ini akan memberikan hasil yang tidak sempurna.
Maka kembali dalam artikel pak Tohari, bila benar demikian, maka muara keberagamaan dan iman kita haruslah berupa amal sholeh, nyata akhlak yang mulia dan bukan pada amal sholeh yang bersifat ritual‐simbolis. Namun, dalam kenyataan kehidupan beragama, kita berada dalam kondisi kurang proporsional.
Kegiatan ritual‐simbolis amat disuburkan bahkan menjadi orientasi dan muara keberagamaan. Sedangkan, ke‐sholeh‐an sosial berupa amal kebaikan nyata yang seharusnya menjadi terminal tujuan keberagamaan kurang dikembangkan.
Mungkin, karena kita sudah lupa akan kisah lalat dan setetes tinta. Lupa juga akan riwayat perempuan yang memberikan roti satu‐satunya untuk anjing lapar atau perempuan ahli ibadah yang tidak bisa membuka pintu surga dengan ibadahnya karena dia tidak bisa menyambung silaturrahim dengan para tetangga. Atau, kita bisa fasih membaca surat Al‐Ma'un, mengimani kandungannya, namun belum sampai pada kesadaran psikomotorik sehingga kita belum melakukan tindakan nyata apa pun. Atau lagi, kita tenggelam dalam ritus‐ritus simbolis dan kurang mengamalkan ke‐sholeh‐an nyata. Padahal, ke‐sholeh‐an nyata, meskipun tampak kurang berarti, bisa menjadi kunci surga yang ternyata dekat.
Ya kunci surga itu ada pada apa yang kita lakukan. Menjadi baik dan kebaikan itu bisa dirasakan oleh orang disekitar kita menjadi cita‐cita seorang Muslim. Nabi SAW bersabda, khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik‐baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jika seseorang sangat sholeh, ahli ibadah, tetapi tidak pernah mengajarkan ilmunya, sirik dengan tetangganya, maka jatuhlah ia dalam egoisme dan soliterisme agama.
Maka sudahkah kita memberi ta’jil, makanan berbuka puasa, kepada tetangga kita hari ini? Sudahkah kita menyingkirkan batuan di jalan? Sudahkah kita ber‐infaq hari ini? Sudahkah kita ber‐silaturrahim dengan saudara kita?
Ikhwah, surga itu dekat. Dekat sekali bahkan terkadang kita tidak menyadarinya. Wallahu a’lam.(dari berbagai sumber)
Ada sebuah konsistensi yang terjadi, demikian pak Tohari bercerita. Ketika seseorang berteori, berkata‐kata, maka segala perkataan tersebut ditransformasikan menjadi amal, menjadi perbuatan, menjadi perilaku.
Pak Tohari bercerita, ketika ngaji pada waktu kecil di bawah kelap‐kelip lampu minyak, pak Tohari dan teman‐teman sekampung pernah mendengar cerita tentang seekor lalat dan setitik tinta. Guru ngaji bilang, suatu hari, seorang yang sangat ‘alim bernama Imam Ghazali sedang menulis kitab dengan kalam dan tinta. Pada saat yang sama, hinggap seekor lalat di atas kertas yang sedang ditulisi oleh beliau. Rupanya, serangga itu sedang kehausan, maka dia menjilati tapak kalam yang belum kering.
Imam Ghazali membiarkan lalat itu minum sampai puas. Kelak Imam Ghazali akan masuk surga. Namun, diterangkan oleh malaikat, Al Ghazali masuk surga bukan karena ilmu yang telah ditulis dalam kitab‐kitabnya. Beliau masuk karena kerelaannya membiarkan setitik tinta diminum oleh seekor lalat.
Dalam sebuah riwayat, menjelaskan, seorang perempuan dikatakan oleh Kanjeng Nabi bakal menjadi penghuni surga karena dia merelakan satu‐satunya roti yang dimiliki untuk seekor anjing yang kelaparan. Padahal, perempuan itu bukan seorang ahli ibadah. Sebaliknya. Suatu saat ada perempuan lewat dan para sahabat mengatakan dialah calon penghuni surga. Perempuan itu suka shalat malam. Tapi, Kanjeng Nabi mengatakan sebaliknya. Perempuan itu meski rajin beribadah, bakal masuk neraka karena dia tidak bersikap baik kepada para tetangga.
Dan saya pun teringat seorang Kiai di Jawa Timur, sayangnya saya lupa nama beliau.
Setiap kali beliau bepergian, kemanapun, beliau selalu menjadi rebutan para tukang becak. Pada waktu itu saya heran, kenapa? Ada sebuah keunikan yang terjadi. Singkat cerita, jika membayar tukang becak yang berjasa mengantarkan, beliau selalu merogoh kantong kemejanya dan langsung memberikan kepada tukang becak tersebut. Tidak pernah dihitung. Berapapun.
Jika tukang becak sedang mendapat rejekinya, ia bisa mendapatkan 50 ribu sekali antar Pak Kiai. Pun jika rejekinya, ia mendapat 500 rupiah dari Pak Kiai tersebut.
Saya selalu bertanya, kenapa beliau selalu membayar dengan cara seperti itu. Cara yang tidak lazim diantara meroketnya harga kebutuhan kehidupan. Pak Kiai, beliau berkata, ”rejeki itu dari Allah SWT. Saya ndak berhak menghalangi rejekinya tukang becak tersebut. Jadi apa yang dikantong saya, itulah rejekinya tukang becak”.
Saya hanya geleng‐geleng saja. Sebuah konsistensi yang unik. Allah SWT tidak akan pernah salah dalam memberi rejeki. Allah SWT tidak pernah salah dalam memberikan pahala. Dan Pak Kiai tersebut juga tidak pernah berpikir apakah nanti mendapat pahala atau tidak. Bagi beliau, beliau mengamalkan apa yang menjadi ceramah beliau.
Allah SWT selalu menyandingkan kata iman dengan amal. Karena sesungguhnya tidak akan berarti iman tanpa amal. Seperti halnya Allah SWT mengancam para ”omdo” (omong doang), dalam QS:62/Ash‐Shoff:2, limataquluna mala taf’alun, tidak mengerjakan apa yang dibicarakan. Dalam konsep manajemen modern, hal seperti ini disebut konsistensi, walk the talk.
Demikian halnya ustadz Said Hawa menjelaskan dalam buku fenomenalnya, Al‐Islam, bahwa karunia iman terletak pada 3 hal, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan perbuatan. Maka kehilangan salah satu dari sendi iman ini akan memberikan hasil yang tidak sempurna.
Maka kembali dalam artikel pak Tohari, bila benar demikian, maka muara keberagamaan dan iman kita haruslah berupa amal sholeh, nyata akhlak yang mulia dan bukan pada amal sholeh yang bersifat ritual‐simbolis. Namun, dalam kenyataan kehidupan beragama, kita berada dalam kondisi kurang proporsional.
Kegiatan ritual‐simbolis amat disuburkan bahkan menjadi orientasi dan muara keberagamaan. Sedangkan, ke‐sholeh‐an sosial berupa amal kebaikan nyata yang seharusnya menjadi terminal tujuan keberagamaan kurang dikembangkan.
Mungkin, karena kita sudah lupa akan kisah lalat dan setetes tinta. Lupa juga akan riwayat perempuan yang memberikan roti satu‐satunya untuk anjing lapar atau perempuan ahli ibadah yang tidak bisa membuka pintu surga dengan ibadahnya karena dia tidak bisa menyambung silaturrahim dengan para tetangga. Atau, kita bisa fasih membaca surat Al‐Ma'un, mengimani kandungannya, namun belum sampai pada kesadaran psikomotorik sehingga kita belum melakukan tindakan nyata apa pun. Atau lagi, kita tenggelam dalam ritus‐ritus simbolis dan kurang mengamalkan ke‐sholeh‐an nyata. Padahal, ke‐sholeh‐an nyata, meskipun tampak kurang berarti, bisa menjadi kunci surga yang ternyata dekat.
Ya kunci surga itu ada pada apa yang kita lakukan. Menjadi baik dan kebaikan itu bisa dirasakan oleh orang disekitar kita menjadi cita‐cita seorang Muslim. Nabi SAW bersabda, khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik‐baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jika seseorang sangat sholeh, ahli ibadah, tetapi tidak pernah mengajarkan ilmunya, sirik dengan tetangganya, maka jatuhlah ia dalam egoisme dan soliterisme agama.
Maka sudahkah kita memberi ta’jil, makanan berbuka puasa, kepada tetangga kita hari ini? Sudahkah kita menyingkirkan batuan di jalan? Sudahkah kita ber‐infaq hari ini? Sudahkah kita ber‐silaturrahim dengan saudara kita?
Ikhwah, surga itu dekat. Dekat sekali bahkan terkadang kita tidak menyadarinya. Wallahu a’lam.(dari berbagai sumber)
Rabu, 03 September 2008
Kayalah Lalu Masuk Surga!
Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infaq-kan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah” (Muslim). Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infaq) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infaq yang paling mulia.
Kemanapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat ber-infaq jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati Qur’an yang memerintahkan kitaterlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban ber-jihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita ber-jihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja pada ayat 111 surah At-Taubah. Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu.
“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian ber-jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf:10-11).
Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar.
Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat.
Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa keshalih-an dan ketakwaan identik dengan kemiskinan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-jauhnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.
Zuhud tidak identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah SWT.
Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah SWT berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah me-nafi-kan sifat zuhud.
Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk surga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf, pebisnis sukses dan kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya, tapi justru beliau termasuk orang zuhud.
Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kemiskinan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kemiskinan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah SWT menegaskan: Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian (Al-Anbiya: 35).
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhatihatilah dengan dunia (Riwayat Muslim)”.
Jadi, orang yang shaleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta ketika dicari dengan cara yang halal. Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah SAW menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut dan berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan (HR Muslim).
Ketika harta itu tidak menyebabkan sombong, itulah gunanya kekayaan. Orang yang sukses mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah SWT. Abdurrahman bin ‘Auf yang termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah menangis tatkala dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah SWT”.
Mestinya juga bisa menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik harta yang shaleh adalah yang ada pada orang shaleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma”.
Saat menjadi fasilitas untuk silaturahim, maka itulah kemenangan sesungguhnya. Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbuatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah SAW bersabda, “Shadaqah kepada orang miskin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan) (At-Tirmidzi)”.
Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Siapa berani???? Allahu a’lam. (re-write dari salah satu milis)
Kemanapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat ber-infaq jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati Qur’an yang memerintahkan kitaterlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban ber-jihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita ber-jihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja pada ayat 111 surah At-Taubah. Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu.
“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian ber-jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf:10-11).
Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar.
Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat.
Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa keshalih-an dan ketakwaan identik dengan kemiskinan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-jauhnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.
Zuhud tidak identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah SWT.
Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah SWT berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah me-nafi-kan sifat zuhud.
Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk surga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf, pebisnis sukses dan kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya, tapi justru beliau termasuk orang zuhud.
Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kemiskinan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kemiskinan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah SWT menegaskan: Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian (Al-Anbiya: 35).
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhatihatilah dengan dunia (Riwayat Muslim)”.
Jadi, orang yang shaleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta ketika dicari dengan cara yang halal. Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah SAW menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut dan berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan (HR Muslim).
Ketika harta itu tidak menyebabkan sombong, itulah gunanya kekayaan. Orang yang sukses mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah SWT. Abdurrahman bin ‘Auf yang termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah menangis tatkala dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah SWT”.
Mestinya juga bisa menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik harta yang shaleh adalah yang ada pada orang shaleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma”.
Saat menjadi fasilitas untuk silaturahim, maka itulah kemenangan sesungguhnya. Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbuatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah SAW bersabda, “Shadaqah kepada orang miskin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan) (At-Tirmidzi)”.
Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Siapa berani???? Allahu a’lam. (re-write dari salah satu milis)
Langgan:
Entri (Atom)

